November 20, 2019

Bikin Susu Almond Coklat Sendiri

Sejak dikasih tau sama dokter kalau aku mengidap autoimun, aku langsung ganti asupan susu sapi yang tadinya full cream ke skimmed milk. Gak tanggung-tanggung aku langsung ganti yang fat-nya 0%. Terus setelah "berguru" JSR di instagramnya dr. Zaidul Akbar, baru tau kalo susu sapi tuh gak dianjurin buat dikonsumsi sama manusia. Kenapa? Berikut penjelasannya (btw penjelasan di bawah sumbernya dari blog http://mrianarisandi.blogspot.com/)

Dari buku dr. Zaidul Akbar dengan judul "Jurus Sehat Rasulullah", beliau mengutip hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Hiromi Shinya. Hiromi melakukan penelitian terhadap 350 ribu pasien dan menyimpulkan bahwa susu sapi bukanlah susu untuk manusia. Hal ini dikarenakan struktur dan komponen pada susu sapi sangat tidak sesuai untuk dikonsumsi manusia, apalagi dalam jangka waktu yang lama. Lebih lanjut dr. Zaidul Akbar memaparkan beberapa fakta mengenai susu sapi, yakni sebagai berikut:
  • Tidak ada makanan lain yang lebih sulit dicerna daripada susu sapi.
  • Kasein yang terdapat dalam susu sapi langsung menggumpal menjadi satu begitu memasuki  lambung.
  • Komponen susu sapi yang telah dihomogenisasi menghasilkan radikal bebas.
  • Lemak teroksidasi yang didapat dari pasteurisasi pada susu sapi membuat susu menjadi produk sampah.
  • Susu yang mengandung lemak teroksidasi mengacaukan lingkungan usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat, dan merusak keseimbangan flora bakteri dalam usus.
  • Perempuan hamil yang minum susu sapi cenderung melahirkan anak yang lebih mudah terkena penyakit kulit.
  • Minum susu sapi terlalu banyak menyebabkan osteoporosis.
  • Jika ingin mendapatkan sumber kalsium, carilah sumber kalsium alami, bukan dari susu. Bahkan, ada yang menyebutkan bahwa anak sapi yang diberi susu formula justru mati.
Serem nga tuuuu???😰. Buat yang pencernaannya normal aja gak baik, apalagi buat lambungnya risa yang suka error😓. Dan akhirnyaaaa eng ing eenngg, aku beralih ke plant based milk, susu non dairy yang lagi hits, yak benaarrr, susu almond😍. Sebenernya dulu tuh pas lagi diet sebelum nikah sempet minum susu almond yang kemasan gitu, tapi diriku tak terlalu puas sama rasanya, jadi balik mulu ke susu sapi.

Yang aku baca dari berbagai sumber, kacang almond tuh kaya akan nutrisi penting. Tinggi serat dan protein, lemak tak jenuh, vitamin E, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, mangan, magnesium, fosfor, kalsium, dan nutrisi penting lainnya. Jadi kebayang kan manfaatnya kalo konsumsi almond😙. Belum kebayang? Okeh, kita jabarin manfaatnya satu persatu:
  • Rendah karbohidrat tapi tinggi serat dan protein. Naahh serat dan protein itu yang bikin gampang kenyang, jadi kacang almond cocok banget gaes buat menu diet.
  • Kaya antioksidan yang bisa melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan oksidatif (pemicu penuaan dan penyakit)
  • Kaya vitamin E. Kulit muluuss, kenceng, awet muda. InsyaAllah😆.
  • Mengandum magnesium yang bisa mengontrol gula dan tekanan darah, juga melancarkan sistem metabolisme.
  • Menurunkan kadar LDL atau kolesterol jahat.
  • Mengandung asam folat yang bagus untuk perkembangan janin. Cuuss bumil ngemil sehat pakai kacang almond, biar kenaikan berat badan ibuknya tetap terkontrol😉
  • Merangsang produksi ASI. Buat busui bisa jadi ASI booster nih.
Bahagia akutuuu baca manfaat kacang almond. Tapiii walaupun udah terbukti sehat, tetep gak boleh berlebihan ya konsumsinya. Segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik. Untuk kacang almond, jumlah yang disarankan buat dikonsumsi itu segenggam per hari (sekitar 20-30 butir).

Di postingan kali ini sebenernya aku mau re-share resep susu almond coklat yang rasanya wuenaakk dari temanku tersayang @ummikyusuf 😚. Kenapa milih repot-repot bikin sendiri? Pertama, karena tidak repot sebenernya, hahaha, insyaAllah gampang bikinnya. Kedua, hemat sisteeerr, beli susu almond 1 karton ukuran 1 liter bisa 50k++ sendiri, belum tentu cocok pula kan rasanya di lidah kita. Ketiga, kalo bikin sendiri tuh kita bisa milih sendiri bahan-bahannya, jadi udah pasti lebih sehat karena gak pake pengawet dan pemanis buatan.

Oke baiklah, kepanjangan keknya pembukaannya, hahaha. Mari cus kita langsung ke resepnya.
Bahan:
  • Segenggam roasted almond (bisa juga pakai yang mentah, tapi sebelumnya harus direndam dulu selama 8-12 jam)
  • 7 butir kurma, buang bijinya
  • 1 sdm raw cacao powder (cacao yaa, bukan cocoa)
  • 500 ml air matang
  • Sejumput himalayan salt
Cara membuat:
  • Blender semua bahan sampai halus
  • Saring dengan cheesecloth (boleh juga gak disaring kalau lebih suka ada teksturnya)
Bagaimana? Mudah bukan cara membuatnya? (ala bu siska)😂.


Read More

December 22, 2018

Dzikir Pagi Petang

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Hai, haaaiii. Mudah-mudahan semua yang lagi baca dalam kondisi sehat lahir batin yaaa

Kali ini aku pengen sharing tentang salah satu ikhtiar aku untuk tetep 'waras', hehehe. Seperti yang udah pernah aku ceritain sebelumnya, aku pernah kena depresi dan anxiety disorder. Ikhtiar untuk sembuh aku tempuh dengan berbagai macam cara, salah satunya Ruqyah Syar'iyah. Untuk lebih lengkapnya tentang apa aja ikhtiar yang aku jalanin, bisa klik disini ya untuk baca postingannya😉


Jadi melalui ikhtiar Ruqyah Syar'iyah, aku mengenal dzikir pagi petang. Sebenernya udah lama sih denger tentang dzikir ini, tapi gak pernah aku cari tau itu isinya apa, manfaatnya apa, dsb dsb. Ya mungkin karena dulu itu aku merasa tidak butuh, cukup dzikir biasa aja, doa biasa aja, toh hidup lancar-lancar aja, badan sehat, mental sehat. Serem juga ya kalo dipikir-pikir, kok bisa-bisanya dulu gak mau tau cara ibadah yang benar, cara bersyukur yang benar, padahal udah dikasih nikmat yang segitu banyaknya, seabrek-abrek sama Allah ﷻ. Giliran disentil dikit, dikasih ujian dikit, baru deeehh merajuk-rajuk, nangis-nangis, ya Allah, na'udzubillahi min dzalik😣

Oke, balik lagi ke dzikir pagi petang. Sebenernya dzikir pagi petang ini adalah kumpulan doa-doa yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, yang biasa diamalkan oleh beliau di pagi dan sore hari. Kalo baca arti dari doa-doanya pasti berasa nyeeess gitu, bagus-bagus banget. Waktu itu aku cari tau lebih dalam tentang dzikir pagi petang ini dari website rumaysho. Temen-temen bisa cek dua postingan Rumaysho ini ya kalo mau baca-baca yang lebih lengkapnya: Dzikir Pagi dan Dzikir Petang.

Alhamdulillah aku ngerasa lebih tenang sejak ngerutinin dzikir pagi petang ini, bangun tidur jadi lebih enak, hampir gak pernah mimpi buruk lagi, kalopun mimpi buruk pas bangunnya gak ada rasa cemas kayak dulu :')

Buat temen-temen muslim yang baca postingan ini, yuk rutinin dzikir pagi dan petangnya. Sebagai permohonan ampun buat segala dosa yang udah diperbuat, sebagai rasa syukur karena udah dikasih begitu banyak nikmat, sebagai bentuk ikhtiar untuk menjadi hamba-Nya yang lebih bertaqwa.

Dzikir pagi petangnya aku share dalam bentuk PDF ya (tinggal klik gambar di bawah), jadi temen-temen bisa download terus baca di hp deh😉


     


Read More

June 07, 2018

Lahir Tanpa Tangisan #4

Pukul 04.00 WITA mulas yang saya rasakan ditambah dengan rasa mulas seperti mau BAB. Rasa ingin mengejan pun tidak tertahankan.

"Sus, ini kok kayak mau BAB ya?"

"Jangan dikejan dulu, Bu, belum waktunya, nanti takut jadi bengkak. Ayo atur nafas lagi, Bu"

Suami membimbing saya untuk mengatur nafas. Alhamdulillah rasa ingin mengejan tiba-tiba hilang. Tapi rasa mulas kontraksinya masih luar biasa dahsyat. Selang beberapa menit rasa ingin mengejan timbul lagi, kali ini lebih heboh datangnya sampai saya kaget karena terlanjur mengejan. Bidan di samping saya segera cek bukaan.

"Oke, alhamdulillah sudah bukaan lengkap, Bu. Kita ke ruang bersalin ya, Bu"

Saya dibawa ke ruang bersalin di lantai 3. Dingin. Hening. Saya membayangkan seperti apa wajah dan kondisi bayi yang sebentar lagi akan saya lahirkan. Apakah nanti saya akan berani melihatnya. Sekilas ada rasa takut, takut kalau kondisinya akan membuat saya trauma.

"Ibu bisa pindah ke kasur bersalinnya, Bu? Pelan-pelan aja, Bu"

"Sebentar sus masih belum bisa saya kontrol sakitnya"

Sebetulnya saya agak kesal ketika disuruh pindah kasur. Yang benar saja, lagi menahan mulas kontraksi gini kok ya disuruh pindah. Memangnya gak bisa di kasur yang sebelumnya saja?

Setelah rasa mulas dan kram-nya bisa saya kontrol, saya pindah ke kasur bersalin sambil berguling perlahan. Bidan memasang perlak di bawah pinggul saya. Ada 2 bidan yang menemani saya di ruang bersalin itu.

"dr. Andri-nya bilang baru kesini setelah subuhan dulu ya, Bu, tanggung kata beliau. InsyaAllah kami berdua bisa bantu kalau memang nanti ternyata lahiran sebelum dokter datang"

Tiba-tiba rasa ingin BAB muncul lagi.

"Sus sekarang sudah boleh ngejan kan ya?"

"Boleh, Bu. Ayo kakinya ditekuk aja, Bu"

Sekali kejan. Belum berhasil. Muncul kembali gelombang kontraksinya. Seorang bidan meluruskan kembali kaki saya, katanya agar rasa ingin mengejannya datang lagi. Tapi saya merasa kesakitan luar biasa dengan posisi terlentang seperti itu.

"Sus boleh baring menyamping gak? Sakit banget terlentang gini"

"Gakpapa, Bu. Senyamannya ibu aja"

Saya coba berbaring menghadap kanan, benar lebih nyaman. Dan alhamdulillah muncul lagi rasa ingin mengejannya. Saya mengejan untuk kedua kalinya. Saya merasa seperti ada yang sudah keluar, namun sepertinya belum maksimal. Kemudian saya ubah posisi menjadi terlentang lagi, saya atur nafas seteratur mungkin.

Suami saya akhirnya masuk ke kamar bersalin, mendampingi saya, sama-sama ikut berjuang untuk bertemu dengan anak kami untuk pertama dan terakhir kalinya.

Gelombang kontraksi semakin dahsyat, kemudian langsung dilanjut dengan rasa ingin mengejan. Saya mengejan untuk yang ketiga kalinya, cetek blaasshhh, saya merasa keluar banyak air di bawah sana. Saya mengejan lagi untuk yang keempat kalinya.

"Sus, kayaknya udah ini"

Bidan mengecek perlak di bawah pinggul saya.

"Iya, Bu. Alhamdulillah sudah lahir ya, Bu"

Ternyata nunggu Baba kamu masuk kamar bersalin dulu ya, Nak, baru mau keluar :')


- - -









Ba'da adzan subuh, anak penghuni surga Allah itu lahir.

Muhammad Syafa Ramadhan

Tanpa ada tangisan, tanpa ada adzan yang biasa dikumandangan oleh seorang ayah di telinga anaknya yang baru lahir.

Sunyi

Sepi

- - -

Saya meminta suami untuk memfoto anak kami. MasyaAllah, begitu bersih, tampan, tubuhnya lengkap, jari-jari tangan dan kaki lengkap. Matanya terpejam. Seperti sedang tidur nyenyak.

"Ibu mau lihat anaknya?"

Bidan menghampiri saya sambil menggendong anak saya. Saya mengangguk, kemudian bidan mendekatkan anak saya ke kepala saya. Saya elus lembut pipi Syafa. Wajahnya sangat mirip dengan saya. Dada saya terasa sesak lagi, menyadari bahwa pagi ini menjadi pertama dan terakhir kalinya saya melihat Syafa di dunia.

Ya Allah, Syafa. Anak Ibun. Sayangnya Ibun :'(




Tak berapa lama kemudian dr. Andri masuk ke dalam kamar bersalin. Melihat kondisi vagina dan rahim saya setelah melahirkan Syafa.

"Alhamdulillah bagus aja, tidak ada robekan ya, Bu"

Kemudian dr. Andri melihat kondisi Syafa. Kulitnya sudah mulai membiru katanya.

"Ini kemungkinan sudah lebih dari 24 jam ya, Bu. Sudah agak keriput dan mulai membiru soalnya. Saya lihat ini plasentanya bagus-bagus aja, Bu ai. InsyaAllah pagi ini sudah keluar hasil lab untuk cek urin dan darahnya ya, Bu. Sekali lagi yang sabar ya, Bu, Pak"

Setelah itu saya diberi obat oleh bidan, efeknya membuat saya menggigil kata bidannya. Benar saja, tidak berapa lama saya mulai merasa kedinginan. Minta tolong bidan untuk menyelimuti saya hingga sebatas leher. Efek menggigil itu agak membuat saya lemas dan mengantuk. Kemudian saya dibawa kembali ke kamar rawat saya di lantai 5.

Syafa ada dalam gendongan ayahnya. Suami bilang pada saya bahwa terasa hangat saat ia menggendong Syafa.

Pagi itu juga suami membawa pulang Syafa untuk dimandikan, dikafani, disholatkan di rumah kami, kemudian dikuburkan di samping makam almarhumah uti dari suami. Sedih karena tidak bisa ikut mengantar Syafa ke tempat istirahatnya. Saya masih harus bedrest karena tensi belum normal juga.

Sekitar pukul 10.00 WITA, dr. Andri masuk ke kamar rawat saya, menyampaikan diagnosa dari hasil lab, cek darah dan urin saya. Saya didiagnosa mengalami PEB (pre eklamsi berat) dan HELLP Syndrome. Masuk kategori PEB karena tensi saya mencapai 190/120, padahal 140/100 saja sudah masuk pre eklamsi berat. Kemudian didiagnosa HELLP Syndrome karena ditemukan protein pada sample urin saya. Namun kata dr. Andri memang Syafa pergi sangat tiba-tiba, karena pada umumnya dalam kasus PEB dan HELLP Syndrome ini seharusnya sudah terlihat gejala-gejalanya paling tidak 1-2 bulan sebelum ada kemungkinan iufd seperti yang terjadi pada saya dan Syafa. Sedangkan hasil cek lab saya pada tanggal 16 Mei (2 hari sebelum saya merasa tidak ada gerakan janin), menyatakan bahwa tensi saya normal, gula darah normal, tidak ditemukan protein dan asam urat pada urin.

Dan pada akhirnya kembali lagi, semuanya sudah menjadi takdir Allah SWT. Semua yang kita miliki di dunia ini pada dasarnya bukan milik kita, Allah hanya meminjamkan, termasuk anak. Allah hanya meminjamkan Syafa pada saya dan suami selama 8 bulan di dalam rahim saya, dan saya sangat bersyukur atas hal itu.

Sekarang yang bisa saya dan suami lakukan hanya berusaha untuk terus ikhlas, sabar, menjadikan ini sebuah peringatan bahwa Allah bisa mengambil nyawa hambanya kapanpun Ia inginkan. Menjadikan ini sebuah pengingat untuk menjadi hamba-Nya yang lebih baik lagi, lebih taat lagi, agar nanti Syafa benar-benar bisa menjadi syafaat bagi saya dan suami. Agar nanti Syafa yang menggandeng erat tangan kami menuju surga-Nya. Agar nanti kami bisa bertemu Syafa lagi dan melakukan semuanya yang belum sempat kami lakukan dengan Syafa di dunia.


Muhammad Syafa Ramadhan. Abang Syafa sayang. Anak Ibun dan Baba. 

Sekarang Syafa bobo yang nyenyak ya. Selalu doakan Ibun dan Baba agar kami jadi hamba Allah yang taat, agar kami bisa berkumpul sama Syafa lagi di Surga-Nya.

Love you, Nak

Ibun dan Baba sayang kamu, Syafa
Read More

June 05, 2018

Lahir Tanpa Tangisan #3

Kalut. Bingung. Bertanya-tanya.

Kenapa?

Apa yang salah?

Kok bisa?

Kenapa begitu cepat?

Kenapa kamu pergi, Nak?

Kenapa tinggalin ibun?

- - -


Keluar dari ruang prakter dr. Andri, saya dibawa kembali ke kamar terima. Bidan dan perawat yang ada disana menyambut saya dengan 'sabar ya, Bu', 'ikhlas ya, Bu'. Salah satu perawat mengukur tensi saya, 190/120, ibu mertua saya kaget mengetahui tensi saya begitu tinggi. Saya pun sebetulnya kaget, tapi entah kenapa pikiran dan pandangan saya kosong, masih kalut, masih bingung dengan apa yang menyebabkan anak saya pergi begitu cepat. Masih memikirkan apa yang salah? Apa yang salah pada tubuh saya?

Segera saya dibawa ke kamar rawat di lantai 5, dipasang infus. Untuk pertama kalinya saya diopname di rumah sakit, pertama kalinya tangan saya ditusuk jarum infus. Air mata saya masih mengalir sesekali tanpa bisa saya tahan. Mata saya terasa panas. Kepala saya terasa berat dan sakit. Saya terus istighfar sambil membelai-belai perut saya, seperti berharap tiba-tiba anak saya kembali bergerak dalam perut saya, tiba-tiba jantungnya kembali berdetak.

Lemas. Saya takut tidak sadarkan diri. Untuk mengalihkan perasaan itu saya mengambil handphone saya, buka whatsapp, ada pesan dari Ayah saya.

Kak, cucu Ayah udah pergi ya? :'(

Saya kembali menangis sambil menjawab pesan whatsapp ayah. Minta maaf dan minta didoakan agar saya bisa ikhlas, agar saya kuat saat persalinan nanti, agar tensi saya segera normal kembali. Ayah minta maaf karena tidak bisa ikut ke Samarinda bersama mama, jatah cuti ayah saya sudah habis. Saya tentu bisa maklum dan bilang bahwa doa dan maaf dari ayah sudah lebih dari cukup.

Grup whatsapp EDAAANNN, Wendy, Ori, dan Vika, jadi 3 orang setelah keluarga yang saya kabari mengenai kepulangan anak saya. Ketiga sahabat saya ini jelas kaget. Mereka tidak menyangka sama sekali akan mendengar kabar seperti ini dari saya. Saya pun tidak menyangka. Yang saya inginkan sebetulnya adalah memberi kabar kejutan bahwa saya akhirnya memutuskan untuk lahiran di Jakarta, agar mereka bisa menjenguk saya dan anak saya di RS atau di rumah kelak. Namun qadarullah, kabar kepulangan anak saya ini lah yang bisa saya umumkan ke ketiga sahabat saya ini. 

Beberapa menit setelahnya, pesan whatsapp dari teman-teman kantor saya dulu bermunculan. Memberikan saya semangat dan mendoakan saya. Pun dari keluarga, pesan dan whatsapp call bergantian di handphone saya. Ayah dan mama pasti juga sudah mengabarkan berita duka ini.

Teman-teman kantor bapak mertua dan teman-teman dharma wanita ibu mertua saya datang bergantian menjenguk saya. Saat teman-teman ibu datang, tidak sedikit yang bercerita bahwa beliau atau anak beliau atau menantu beliau juga pernah mengalami hal yang sama dengan saya. Saya sangat berterima kasih, setidaknya dengan mendengar cerita-cerita mereka, saya merasa tidak sendiri.

- - -


Ba'da dzuhur akhirnya suami sampai di rumah sakit. Melihatnya berjalan dari pintu masuk dan menghampiri saya sambil tersenyum membuat saya kembali menangis. Saya merasa bersalah, merasa gagal membuatnya menjadi seorang ayah, merasa bersalah karena sering membuatnya khawatir selama kehamilan saya, merasa bersalah karena memberi kabar duka saat ia sedang mencari nafkah di Bontang pagi tadi. Kemudian ia duduk di samping kasur, satu tangannya menggenggam tangan saya, yang satunya membelai kepala saya yang masih terbungkus jilbab karena sebelumnya masih banyak tamu yang datang menjenguk. Ia menatap saya, saya bisa lihat genangan air di matanya yang ia tahan agar tidak jatuh. Rasa bersalah semakin memenuhi hati saya.

"Ini, coba ica baca"

Suami saya memperlihatkan sebuah artikel untuk saya baca. Kisah yang indah. Ia ingin menyemangati saya kembali dengan kisah di artikel itu.

Janin yang Membawa Ibunya ke Surga Bersama Ari-arinya, judul kisah di artikel itu.

Saya membacanya sambil menangis kembali, sambil masih menggenggam erat tangan suami hingga saya selesai membaca kisah itu.

"Yam, tadi pas di whatsapp, ayah ngasih saran nanti depannya Muhammad, terus mama bilang ada Ramadhan-nya juga karena ini bulan Ramadhan"

"Iya boleh" jawab suami sambil mengusap-usap tangan saya.

Perawat masuk ke dalam kamar saat saya ingin turun dari kasur karena ingin buang air kecil. Perawat bilang saya harus bedrest karena tensi saya masih tinggi, untuk buang air kecil nanti akan dipasang kateter urin, sekalian nanti urin saya diambil samplenya untuk dicek lab. Kemudian saya kembali naik ke kasur, perawat tadi mengukur kembali tensi saya, 180/110, masih tinggi. Setelah tensi, dua orang perawat lain masuk ke kamar untuk memasang kateter urin dan menyuntikan obat penurun tensi (MgSo4 kalau tidak salah) ke infus saya.

"Bu, ini obatnya saat saya suntikkan nanti ada efek panas ya, Bu"

Benar saja beberapa saat setelah disuntikkan, tubuh saya berasa panas, seakan-akan keluar asap panas dari seluruh tubuh saya. Saya agak panik dan merasa sangat tidak nyaman.

"Saya pasang selang oksigen ya, Bu. Takut ibu tidak nyaman bernapasnya"

Pertama kalinya juga untuk saya dipasang selang oksigen seperti ini. Saking panasnya, saya buka jilbab saya, minta suami untuk mengambilkan minuman dingin. Yang terbayang saat itu adalah gelas berisi air es dan es batu. Saya lirik sisa cairan MgSo4 yang sedang disuntikkan oleh perawat, masih 3/4 tabung suntik.

"Ya Allah, sus, masih lama ya disuntiknya? Panas banget"

"Iya, Bu, cairannya kental banget ini, saya suntik pelan-pelan aja ibu gak nyaman, nanti kalau saya suntiknya cepet-cepet ibu gimana? Maaf ya, Bu, yaaa. Ayo, Bu sambil atur nafas ya, Bu"

Seorang bidan masuk ke kamar, bilang bahwa ia akan memasukkan obat induksi pertama. Obat induksi yang diberikan ke saya bukan dalam bentuk cairan infus, karena kata dr. Andri obat induksi yang bentuk cairan infus efeknya sangat sakit, takut saya belum apa-apa sudah menyerah. Yang diberikan ke saya obatnya dalam bentuk tablet yang dimasukkan ke dalam vagina saya. Rasanya bagaimana saat dimasukkan obat ke dalam vagina? Tentu saja tidak nyaman.

Akhirnya cairan penurun tensi selesai disuntikkan. Tubuh saya masih terasa agak panas. Kira-kira setengah jam setelah obat induksi dimasukkan, saya mulai merasa mulas, tapi masih sebatas mulas saat nyeri haid, masih bisa saya tahan. Rasa mulasnya datang secara berkala, tapi belum terlalu sering.

Menjelang maghrib saya diberikan obat induksi yang kedua. Efeknya berbeda dengan pemberian yang pertama. Mulas yang saya rasakan lebih sakit dan lebih sering walaupun masih ada jeda waktu datangnya. Karena menahan rasa sakit, tiba-tiba suhu tubuh saya naik. Suami mengompres saya dengan bye bye fever yang ia dapatkan dari minimarket di depan rumah sakit. Saya minta suami untuk mendinginkan suhu kamar karena saya masih merasa kepanasan.

Suami duduk di samping kasur saya lagi, memberi saya minum. Saya genggam kembali tangannya, seakan-akan mencari energi dari tubuhnya agar saya tidak lemas. Tiba-tiba ia menatap saya.

"Yam, io mau namanya ada Syafanya gimana? Artinya syafaat. InsyaAllah nanti dia yang jadi syafaat buat kita"

Matanya berkaca-kaca, namun selalu berhasil ia tahan agar tidak ada air mata yang jatuh.

Saya mengangguk sambil tersenyum.

"Muhammad Syafa Ramadhan berarti ya yam namanya"


- - -


Mama saya sampai di rumah sakit sekitar jam 21.30 WITA. Mama menghampiri saya sambil menangis. Mama pasti sedih kehilangan cucu pertamanya, ditambah lagi sedih melihat anaknya terbaring menahan sakit efek induksi dan nyeri di pembuluh karena cairan infus penurun tensi. Saya juga ingin menangis, tapi entah kenapa tidak ada air mata yang keluar saat itu.

Semakin malam rasa mulas itu makin menjadi jadi dan suhu tubuh saya terasa semakin panas. Mama menyuruh suami saya untuk memanggil perawat. Saat dicek, benar saja ternyata suhu tubuh saya 39°C. Akhirnya di infus saya diberikan tambahan cairan paracetamol agar suhu tubuh saya kembali normal plus di tangan saya disuntikkan obat penahan rasa sakit agar saya bisa tidur.

Malam itu hanya suami dan mama yang menemani saya di RS. Ibu dan bapak mertua saya pulang dan mengatakan akan kembali ke RS saat sahur sekalian membelikan makan sahur untuk mama dan suami saya.

22 Mei 2018

Sekitar jam 01.00 WITA saya terbangun karena merasa kepanasan dan haus. Saya panggil suami yang tidur di sofa untuk mengambilkan minum dan menurunkan suhu ruangan.

Mama saya ikut terbangun karena ada beberapa perawat yang masuk ke kamar untuk mengukur tensi saya. 165/100, masih tinggi juga. Kemudian perawat tersebut mengganti cairan infus saya.

"Yo, gak kedinginan? Mama kedinginan tadi tidurnya" kata mama ke suami saya

"Itu ica kepanasan ma jadi rio turunin suhu acnya. Mama tidur di sofa aja biar gak terlalu kesemprot ac"

"Emang dingin ya ma? Aku malah kepanasan banget ini, sampe keringetan"

"Iya dingin, gakpapa mama pindah ke sofa aja biar gak kena ac"

Jam 02.00 WITA seorang bidan masuk ke kamar, memberikan saya obat induksi yang ketiga. 'Yak, siap-siap mules lagi' pikir saya.

Di luar dugaan, efek obat induksi yang ketiga ini super dahsyat. Saya merasa mulas non stop, hampir tidak ada jeda, sakitnya luar biasa. Saya panggil suami untuk duduk di samping saya, saya genggam tangannya erat sambil menahan sakit. Mama memberi saya minum, tapi ternyata tidak membantu mengurangi rasa sakitnya. Mama membimbing agar saya beristighfar.

Astaghfirullah

Ya Allah

Ya Allah

Sakiiittt

Sekitar jam 03.00 WITA, ibu dan bapak mertua saya datang sambil membawa nasi padang untuk makan sahur suami dan mama saya. Mama dan suami saya hanya bisa makan sahur sedikit saja karena khawatir dengan saya yang sudah kewalahan menahan rasa sakit.

"Ya Allah, sakiiitt, sakit banget ini gimanaaa? Ya Allah gimana ini? Gak kuat, gak bisa ya Allah"

Kepala saya menggeleng-geleng, kaki saya gemetar, gigi saya beradu, sakitnya makin luar biasa. Mama menangis, menggenggam tangan saya, kembali membimbing saya untuk beristighfar.

"Maaa, maafin ica maaa, maaaff"

Saya membayangkan bagaimana dulu perjuangan ibu saya yang diinduksi sampai 2 cairan infus, dimasukkan balon dan diberi induksi lewat mulutnya hanya untuk melahirkan saya. Pasti lebih dari ini rasa sakitnya. Dan saya masih dengan teganya banyak mengecewakan, membuatnya sedih, membuatnya marah.

Ibu mertua saya menyuruh suami saya untuk memanggil perawat. Yang masuk ke kamar adalah bidan yang sejak kemarin memberikan obat induksi untuk saya.

"Saya cek bukaan ya, Bu. Maaf agak gak nyaman"
"Belum ada bukaan, Bu"

"Tapi sakit banget sus. Udah gak kuat saya"

"Coba diatur nafasnya ya, Bu"

Saya dibimbing untuk mengatur nafas saya. Ternyata manjur, rasa mulasnya menjadi ada jedanya lagi. Namun gak bertahan lama. Rasa mulas yang luar biasa muncul kembali, bertubi-tubi, tanpa ampun. Sekitar jam 03.30 WITA suami kembali memanggil bidan, kemudian bidan cek bukaan.

"Sudah bukaan 4 ini, Bu. Mudah-mudahan sebentar lagi ya, Bu"

"Sus, tapi ini sakit. Saya nyerah sus, dioperasi aja"

Saya mohon-mohon sambil meringis kesakitan. Saya lihat suami hampir menangis melihat kondisi saya.

"Semangat, Bu. Tanggung sudah bukaan 4. Sabar ya, Bu, yaaa"

'Ya Allah tega amat ini bidan' pikir saya

"Nanti jam 4 saya balik periksa bukaan lagi ya, Bu. Tapi kalau ada apa-apa panggil lagi aja, gak apa"
.
.
.
.
.
Lahir Tanpa Tangisan #4
Read More

May 31, 2018

Lahir Tanpa Tangisan #2

21 Mei 2018

Akhirnya tiba juga hari Senin. Hari itu saya dapat jadwal kontrol ke dokter spog jam 14.00 WITA. Rasa panik dan khawatir masih menyelimuti hati saya, otak saya terasa penuh, gerakan normal janin masih juga belum saya rasakan sejak saya bangun tidur.

Hari itu memang jadwal suami untuk ke Bontang karena urusan pekerjaan. Dari minggu malam ia sudah bilang kalau akan berangkat setelah sholat subuh, karena janjian dengan client di Bontang jam 9 pagi. Melihat suami sudah bersiap berangkat pagi-pagi buta, entah kenapa saya galau, saya tidak mau dia berangkat, saya tidak siap ditinggal dan menunggu sendirian di rumah hingga siang nanti. Tapi suami tetap meyakinkan saya untuk tetap husnudzon, bilang bahwa sebelum dzuhur ia akan pulang dan mengantar saya kontrol ke dokter. Namun tetap saja saya merasa tidak berani, hati saya tidak tenang, sama sekali tidak tenang. Akhirnya suami minta tolong ke ibunya untuk menemani saya di rumah hingga ia pulang nanti siang, karena hari itu suami benar-benar harus berangkat ke Bontang.

Ditemani ibu mertua di rumah, saya agak tenang karena tidak merasa kesepian, tapi otak saya masih penuh, banyak pikiran dan pertanyaan yang berkecamuk disana. Selesai sarapan saya merasa perut saya kencang, kemudian diikuti dengan tonjolan yang muncul di permukaan kulit perut, saya tunjukkan ke ibu mertua

"Ini, Bu, kayak gini aja gerakannya dari hari sabtu, gerakan janin bukan ya ini?"

Setelah melihat tonjolan di perut saya, raut wajah ibu agak berubah, mungkin khawatir juga kalau itu bukan gerakan yang normal. Akhirnya ibu menelpon bapak mertua untuk menghubungi direktur RSUD AW Syahranie, yang kebetulan memang bapak kenal dengan beliau, agar saya dijadwalkan untuk bertemu dengan dokter spog langganan saya pagi ini juga. Jam 09.00 WITA bapak menghubungi ibu kembali, bilang agar ibu dan saya bersiap-siap karena sudah berhasil dijadwalkan untuk bertemu dengan dr. Andriansyah (dokter spog saya) jam 10.00 WITA di RSUD.

Selesai mandi, bersiap-siap, dan sholat dhuha, akhirnya saya berangkat ke RSUD diantar oleh ibu dan bapak mertua saya. Deg-degan, panik, khawatir, tetap berharap, semua perasaan jadi satu. Saya coba tenangkan diri sambil terus istighfar dan membelai perut saya. Sesampainya di RSUD saya langsung dibawa ke kamar antar, disana saya sudah ditunggu oleh beberapa orang bidan. Seorang bidan memeriksa djj (detak jantung janin) saya dengan menggunakan doppler, null, yang terdengar hanya detak jantung saya dan suara usus saya. Seorang bidan lagi datang kemudian memegang perut saya untuk mengetahui posisi janin, sambil bertanya

"Ini usia kandungan berapa ya, Bu?"

"31 minggu sus" jawab saya.

Kemudian sang bidan berbisik ke bidan yang satunya, namun bisikan itu masih terdengar oleh saya

"Kecil ya perutnya, 31 minggu" bisiknya, raut wajahnya juga tampak khawatir.

Bidan pertama kembali mencoba mencari djj menggunakan doppler, tetap null, yang terdengar hanya detak jantung saya dan suara organ di perut saya.

"Bu, ini alatnya belum secanggih USG, langsung USG dengan dr. Andri saja yuk, Bu" katanya, berusaha menenangkan saya. Istighfar sebanyak-banyaknya dalam hati, hanya itu yang bisa saya lakukan.

Saya diantar masuk ke ruang praktek dr. Andri, disana bidan menyuruh saya langsung berbaring untuk segera di-USG. Setelah bidan memberikan gel di atas permukaan perut saya, dr. Andri menjalankan alat USG-nya. Saya bisa melihatnya sedang tidur terlentang, seperti biasanya ia tiap saya di-USG, namun ada yang berbeda, tidak lagi saya lihat ada bagian yang bergerak kembang kempis di dadanya, tidak ada lagi suara gemuruh detak jantungnya yang cepat terdengar di alat USG hari itu. Nafas saya mulai berat.

"Bu, ini bagian kepala janin, ini tulang punggungnya ya, Bu. Tapi memang detak jantungnya sudah tidak ada. Air ketubannya juga menipis, sepertinya sudah lebih dari 24 jam. Sabar ya, Bu ai", kata dr. Andri dengan logat Banjarnya.

Beliau mengatakannya dengan perlahan dan sangat halus, namun tetap sangat menusuk bagi saya. Air mata saya mengalir, kepala saya terasa berat.

Ya Allah, aku belum bertemu dengan anakku, aku belum sempat mengintip wajahnya lewat USG 4D, aku belum banyak mengajaknya ngobrol, Ya Allah, Ya Allah :'(

Turun dari tempat tidur, ibu mertua saya langsung merengkuh saya dalam pelukannya.

"Ica yang sabar ya, Ca, yaaa. Ini sudah kehendak Allah. Ica ikhlas ya, Ca" ucapnya berulang-ulang sambil mengelus punggung saya.

Saya menangis sejadi-jadinya. Ibu dan bapak mertua saya juga menangis. Ini anak pertama saya dan suami, tapi ini juga adalah cucu pertama mereka, juga cucu pertama ayah dan mama saya. Harapan dan dunia kami seolah-olah runtuh dalam sekejap. Setelah tangis kami cukup mereda, dan saya yang lemas didudukkan di kursi roda, akhirnya dr. Andri mulai bicara tentang diagnosa kasus iufd saya ini. Beliau bilang ada banyak kemungkinan, yang jelas janin dalam perut saya tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi. Ya Allah, membayangkan anak saya tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup membuat saya hancur, saya merasa bersalah.

Ya Allah, Nak, maafkan ibun, Nak.

Kemudian dr. Andri bilang bahwa janin ini harus dilahirkan, saran beliau secara normal saja karena janinnya pun masih kecil dan beliau takut kalau dilahirkan secara SC kondisi psikis saya makin memburuk karena kalau SC selain saya sedih kehilangan buah hati, saya juga harus menahan sakit dalam jangka waktu yang lebih lama karena bekas jahitannya nanti. Jujur saya belum siap melahirkan dengan cara apapun, saya belum punya bekal ilmu sama sekali, karena niat sebelumnya saya akan mulai ikut kelas-kelas hipnobirth, prenatal yoga dan lainnya saat saya sudah di Jakarta nanti. Namun ternyata saya harus siap, mau tidak mau, siap tidak siap janin ini harus dilahirkan, dokter takut jika tidak segera, kehamilan ini akan berbahaya untuk saya.

Akhirnya diputuskan untuk lahiran normal dengan bantuan obat induksi, setelah sebelumnya dr. Andri minta pendapat suami saya via telpon. Saya juga sempat bicara dengan suami via telpon, walaupun lebih banyak diisi dengan sesenggukan karena tangis yang tertahan. Di awal telpon saya terus menerus minta maaf ke suami, minta maaf karena buah hati kami harus pergi, minta maaf karena saya tidak becus, minta maaf karena tahun ini kami gagal menjadi orang tua 'seutuhnya'. Suami terus menenangkan saya, bilang ia sudah di jalan pulang, bilang ia akan segera menemani saya, ikut berjuang bersama saya, akan segera menggenggam tangan dan memeluk saya untuk berbagi segala yang rasakan. Pun ketika saya mengabarkan mama, saya hanya bisa minta maaf sambil menangis sesenggukan, mama di jakarta juga menangis

"Kaakk, kakak yang sabar, yang ikhlas ya, Nak. Mama berangkat ke Samarinda sekarang, mama temenin kamu"
.
.
.
.
.
Lahir Tanpa Tangisan #3
Read More

May 29, 2018

Lahir Tanpa Tangisan #1

Seharusnya hari itu kontrol kehamilan saya di usia kandungan 31 minggu, menjadi hari dimana saya bisa melihat wajahnya dalam bentuk hasil USG 4D sekaligus meminta izin dari dokter spog untuk lanjut kontrol dan melahirkan di Jakarta. Namun takdir Allah SWT berkata lain.


Memasuki kehamilan trimester 3, saya mengalami keluhan kaki yang membengkak. Di awal bulan Mei, saya dan suami menghabiskan akhir pekan di Balikpapan. Hari pertama disana, saat buka sepatu ketika hendak sholat di masjid, saya agak kaget melihat pergelangan kaki yang bengkak. Khawatir dengan keadaan tersebut, saya mencari info di google dan instagram. Pre eklamsi menjadi kekhawatiran terbesar setelah saya mendapatkan informasi dari berbagai artikel. Suami berusaha menenangkan saya. Suami bilang ia pernah membaca bahwa hal ini (kaki bengkak) wajar terjadi di kehamilan trimester 3, dan lagi saya baru saja menempuh perjalanan jauh (Samarinda - Balikpapan; 2 jam perjalanan darat) dengan posisi duduk serta kaki yang kemungkinan menggantung.

Senin, 7 Mei 2018

Hari itu saya dan suami ke RSIA untuk kontrol kandungan (usia kandungan 28 minggu). Seperti biasa, bahagia mendengar detak jantungnya, ditambah lagi hari itu tumben-tumbennya ia menendang saat USG. Saya bisa melihat gerakannya di layar. Rasanya semakin tidak sabar untuk bertemu.

Dokter mengatakan keseluruhan kondisi kehamilan saya baik. Perkembangan otak janin sangat baik, hanya saja badannya kecil, dokter sampai curiga kalau saya malas makan. Saya membantahnya karena berat badan saya terus bertambah tiap kali kontrol. Apalagi sejak dokter bilang bbj (berat badan janin) ngepas saat kontrol di uk 24 minggu, saya jadi lebih sering makan terutama yang manis-manis.

Di akhir sesi kontrol dokter menanyakan keluhan yang saya rasakan. Saya cerita mengenai kaki bengkak yang saya alami. Kemudian dokter menanyakan hasil tensi saya ke bidan yang ada di ruangan, 110/90 jawab bidannya, normal. Namun mungkin karena dokter khawatir karena bbj masih rendah, akhirnya saya dirujuk untuk cek lab (darah+urin).

Rabu, 16 Mei 2018

Baru sempat untuk cek lab, karena dari tanggal 10-14 ada orang tua saya datang dari Jakarta. Saya ditemani suami datang ke Prodia jam 9 pagi, disana saya ditensi (110/90; normal seperti biasanya), ambil darah dan urin. Adminnya bilang bahwa hasil lab bisa diambil jam 1 siang di hari yang sama. Suami yang ambil sekalian pulang ngantor. Kami cek hasilnya sore itu, semuanya dinyatakan normal, baik darah maupun urin saya.

Kamis, 17 Mei 2018

Sehabis sarapan, saya diajak ibu mertua ke salon untuk potong rambut dan creambath. Lumayan, pikir saya, sekali-kali memanjakan diri, lagipula semakin membesar perut semakin gampang saya merasa kepanasan, dan rambut juga sudah mulai panjang.

Hari itu saya merasakan gerakannya agak berkurang, padahal sejak masuk usia kandungan 7 bulan gerakannya semakin aktif. Saat di salon maupun sepulang dari salon saya terus pancing agar ia bergerak, saya minum teh manis, makan es krim, minum air dingin. Alhamdulillah ada gerakan. Saya belai terus perut saya, ajak ia ngobrol, bacakan qur'an.

Jumat, 18 Mei 2018

Jumat siang, sehabis dzuhur, saya sudah janjian sama suami untuk nonton Deadpool 2. Suami jemput saya sepulangnya ia dari sholat jumat di masjid dekat rumah.

Pagi itu seperti biasa saya awali dengan sarapan sereal+susu. Setelah semangkuk sereal+susu itu habis saya lahap, ia bergerak sekali, saya balas dengan

"Eeehh, Assalamu'alaikum anak ibun, udah bangun, Nak?" sambil mengelus perut.

Namun setelah elusan dan sapaan salam itu, saya tidak pernah lagi merasakan gerakan normalnya. Mungkin itu jadi tendangan terakhirnya untuk saya.

Ya Allah, anakku :'(

- - - - -

Sejak Jumat sore saya merasa perut saya sepi, lain dari biasanya. Gerakan-gerakan yang saya rasakan hanya perut yang mengencang kemudian muncul tonjolan-tonjolan di permukaan kulit perut. Saya masih berusaha husnudzon bahwa itu adalah gerakan janin, walaupun sejujurnya hati saya sudah tidak tenang, khawatir.

Sepanjang hari Sabtu, pun hanya gerakan-gerakan itu yang saya rasakan. Menjelang ashar saya telpon RSIA untuk daftar kontrol ke dokter spog langganan saya, sebetulnya ingin sekali kontrol hari Minggu, sayangnya doktor tersebut tidak ada jadwal di hari Minggu. Mau coba ke dokter spog yang lain pun ternyata tidak ada yang praktek di hari Minggu. Akhirnya pasrah untuk daftar kontrol di hari Seninnya.

Minggu pagi saya whatsapp mama di Jakarta, berkabar bahwa sejak jumat sore saya tidak merasakan gerakan janin yang seperti biasanya dan minta doa supaya kondisi saya+janin sehat-sehat saja. Mama langsung video call saya, bilang agar saya jangan panik, jangan stress, tetap husnudzon. Setelah video call itu pecahlah tangisan saya, perasaan khawatir itu semuanya tertumpah.
.
.
.
.
.
Lahir Tanpa Tangisan #2
Read More

July 01, 2017

Tamu dari Samarinda


Yak, sesuai judul.

Jadi rumah ayah mama kadatangan tamu dari Samarinda. 15 April 2017.

Setelah 5 tahun kenal dan deket sama Rio (halah udah bilang aja pacaran😒). Setelah bulan April setahun sebelumnya ada acara makan malam antar 2 keluarga inti, diskusi kelanjutan hubungan Risa dan Rio yang akan dibawa kemana. Finally datang juga hari itu.

Waktu makan malam setahun yang lalu, walaupun malu2, tapi kedua orang tua udah sama2 tau maksud dari pertemuan itu. Risa sama Rio pengen nikah, hahaha. Setelah menimbang beberapa hal, akhirnya diputuskan kalo pernikahan insyaAllah akan diselenggarakan di tahun 2017 (doain ya semuanyaaa, supaya lancaaarr😆🙏).

15 April 2017 dipilih jadi tanggal lamaran resmi kami. Kenapa pilih tanggal itu? Soalnya emang cari yang kena long weekend, hahaha. Maklum ya keluarga yang mau ngelamar dari luar pulau Jawa soalnya, capek betul kalo harus PP sehari, walaupun sebenernya bisa aja.

Alhamdulillah lamaran terlaksana dengan lancar. Sederhana aja, emang maunya begitu, soalnya udah berat di ongkos sis😂. Selain itu emang budgetnya mau difokusin untuk nikahan dan segala perintilannya.

Jadilah budget lamaran yang udah dikompres sedemikian rupa dipake buat dekor, konsumsi, MUA, kebaya Risa, dan kain batik sarimbit (buat atasan batik Rio & rok batik Risa).

Dekor seadanya, mama yang dekor, modal kembang2 cantik beli di pasar bunga kebon nanas. Tenda+kursi2 buat tamu sewa di temen mama yang punya usaha jasa dekor, Kaytara Decor namanya, ada di Pondok Kelapa, bisa ceki2 IG-nya di @kaytaratenda_decor yaa.

Aku, mama, dan adek2 didandain sama MUA dari Wardah, namanya Mba Dilla, mama udah langganan lumayan lama sama Mba Dilla ini, dari 2011 atau 2012 deh kayaknya. Hasilnya makeupnya natural, gak keliatan medok, terus sukanya Mba Dilla ini bisa hijab-do juga. Boleh ceki2 IGnya Mba Dilla juga ya di @ichfa_rafidillah.

Konsumsi pesen di temen mama, nasi kapau, enak banget nasi kapaunya soalnya asli urang awak (makasi banyak ya tanteee, calon ibu mertua aku suka banget dendeng baladonya😆🙏). Ada sate padang juga, pesen di warung Sate Padang Ajo Buyung Pondok Kelapa, sate padang langganan, saking enaknya jadi pengen memperkenalkan ke tamu2 dari Samarinda🤣. Buat snacknya ada jajanan pasar, beli di Pasar Tebet. Sama ada Serabi Ijo Pondok Kelapa, langganannya ayah.

Lamaran Risa sama Rio gak ada acara tukar cincinnya. Emang aku sama Rio gak mau. Kedua orang tua juga bilangnya gak perlu. Jadi akhirnya ibunya Rio ngasih buket bunga aja ke aku sebagai simbol khitbah, hehehe.

Dokumentasi gimana? Modal kamera sendiri, difotoin sama adek, plus foto+video rekaman dari sepupu2, hahahaha. Gak kepikiran mau pake vendor photography+videography, nanti aja deh budget dokumentasinya dipuas-puasin pas nikahan😂😂😂
Eeeehh pas diliat hasil foto2nya ternyata bagus baguuss, alhamdulillah, terima kasih adekku yang udah fotoin😘❤️️



Oiya, walaupun acara lamarannya gak yang formal2 amat, ditambah waktu yang terbilang cukup singkat, menurutku tetep perlu pake rundown biar efisiensi waktu, ngobrolnya gak ngalor ngidul, hehehe. Jadi waktu itu aku bikin rundown dibantu sama ayah. Rundownnya aku share ya, bisa download disini, kali aja ada yang butuh untuk acara lamarannya😉

Sekali lagi mohon doanya ya buat pembaca sekalian. Good luck juga buat capeng2 lain di luar sana. Bismillah kita bisaaa~~!!💪😆
Read More

October 15, 2013

[RECENT UPDATE] Rumah Lezat "Simplisio"

Pertama kali tau rumah makan ini dari tweet-an temen temen, banyak banget yang ngomongin, jadi penasaran tapi belom sempet berkunjung kesana terus. Review dari temen temen juga bagus bagus, semuanya pada bilang harganya terjangkau, rasanya enak, porsinya banyak, wuaahh, gimana gak tambah penasaran coba.

Rumah Lezat "Simplisio" ini gak begitu jauh dari lingkungan kampus dan kosan gue yang lokasinya di daerah Dayeuh Kolot (nama daerah di Bandung loh iniii). Rumah makan ini letaknya di Jalan Karapitan, 45 A, Bandung. Buat warga kawasan pendidikan Telkom yang berdomisili di lingkungan kampus, kalo gak punya kendaraan pribadi bisa naik angkot hijau (Dayeuh Kolot - Buah Batu), turun di pasar Kordon terus lanjut naik angkot biru (Buah Batu - Kebon Kalapa), kalo udah ngelewatin lampu merah pertama setelah  Univ. Langlangbuana, liat liat ke kanan jalan, kalo udah liat papan warna pink bertuliskan Rumah Lezat "Simplisio" berarti udah bisa turun dari angkot😁

Suatu malam, akhirnya gue berhasil berkunjung ke rumah makan ini, berduaan aja sama Taghsya, temen satu kosan. Kami berdua naik motor kesana. Sesampainya disana, si rumah makan terlihat sepi, cuma ada kami berdua dan dua pengunjung lainnya. Gue dan Taghsya memilih untuk duduk di lantai 2, kayaknya suasananya lebih asik. Padahal lantai 2 itu smoking area, karena lagi sepi, ya gak perlu khawatir lah ada yang ngerokok. Oke, sebagai permulaan, gue mau memuji pelayanan disini. Pelayan pelayannya super baik, tapi baiknya gak lebay, gak sampe ditanyain "gimana mbak? udah nyaman duduknya?" hahaha. Bingung sih gue kalo ada pelayan yang nanya kayak gitu, kalo seandainya gue jawab "belom mbak, gak nyaman nih duduknya", nah si mbak pelayannya bakalan berbuat apa ya? Okeh, kita lanjut cerita RumZat lagi. Pas gue sama Taghsya udah dapet meja, pelayannya datengin kami sambil bawa dua buku menu dan 1 papan menu. Satu buku menu isinya menu menu makanan dari berbagai negara, kabita deh kalo liatin foto foto makanannya. Satu buku menu lagi judulnya "Sushisio", isinya menu sushi sama ramen. Kalo yang papan menu isinya menu mie hongkong sama menu menu paket hemat kalo gak salah.

Awalnya kesini karena Taghsya penasaran pengen nyicipin Tteokbokki (makanan korea)-nya yang katanya enak, tapi sayangnya udah abis, kata mbak pelayannya menu tteokbokki ini menu best seller. Oke lah akhirnya malem itu Taghsya pesen Cheese Bibimbap (masakan korea yang berupa nasi, sayur sayuran, keju, telur yang nantinya akan dicampur campur, bentuknya semacam gado gado kalo di Indonesia), sementara gue pesen Mandu Ramyeon (masakan korea yang berupa mie pake pangsit kuah dan kimchi) dan kentang pom pom, karena entah kenapa gue lagi ngidam pom pom saat itu. Oiya kalo makannya di lantai 2, untuk manggil pelayan, kita cukup mencet bel yang udah disediakan, nanti gak lama mbak/mas pelayannya bakalan dateng. Makanannya pun datang, dan wow! porsinya beneran banyak dan rasanya ituuu, hmm, juaraaa, bahkan rasa asem kimchinya aja masih bisa diterima sama lidah gue😍
IDR 25000
Itu dia penampakan Mandu Ramyeon yang gue pesen, isinya ada mie ramyeon, enam mandu (pangsit ayam), jamur enoki, kim (rumput laut), telor ceplok, kimchi, serutan wortel. Rasanya joooss!! enak syekaliii😆
IDR 35000
Yang itu penampakan Bibimbapnya Taghsya, isinya ada nasi, jagung, serutan wortel, kim, buncis, jamur, daging ayam, daging sapi, dan keju. Cuma icip sesendok waktu itu, enak rasanya, apalagi setelah dicampurnya pake gochujang (saos khas Korea).
IDR 15000
Nah kalo yang unyu ini namanya kentang pom pom, rasanya yummy sekaliii, ada tekstur kentang yang kayaknya dipotong dadu kecil gitu pas dimakan.

Setelah makan di Rumah Lezat "Simplisio" untuk yang pertama kalinya, gue cerita plus review makanannya ke si pacar, abang Rio, beberapa hari setelah malem itu, akhirnya gue kesana lagi sama si abang. Mesen menu yang beda dong tentunya. Untuk yang kedua kalinya ini, gue pesen Bolonara Pasta, kalo diliat dari namanya, kayaknya sih isinya bakalan pasta yang saosnya gabungan antara saos bolognese sama saos carbonara. Dan yaakk, ternyata seperti inilah tampilan si Bolonara Pasta yang rasanya juga mantaps.
IDR 29500
Si abang pesennya Jjajjangmyeon (mie kecap khas Korea pake potongan ayam dan kentang), bumbunya enak, tapi rasanya agak agak mirip sama jjajjangmyeon instan yang pernah gue bikin, tapi masih lebih enakan ini, ada tambahan bumbu lain sepertinya. Jjajjangmyeon-nya si abang gak sempet gue abadikan, keburu dilahap habis sama dia, hahaha. Di hari kedua itu gue juga pesen Cheese Tteokbokki, akhirnyaa, berjodoh juga sama menu ini :')
IDR 32500
Cheese tteokbokki-nya RumZat ini enak sekali sodara sodaraaa, kekenyalan tteok-nya pas, saosnya pedesnya pas, asem kimchinya sopan, perfect lah pokoknyaaa, jatuh cinta sama cheese tteokbokki iniii💕

Dan besoknya, kami kembali makan disini lagi, kali ini si abang yang ngajakin, hebat lah langsung bisa bikin dia ketagihan berkunjung, hahaha. Di kunjungan ketiga ini, gue pesen Kare Ramen, rasa kuahnya mirip kuah Indomie rasa kari ayam, tapi yang ini versi lebih enaakk.
IDR 30000
Kali ini si abang pesen mie hongkong sosis kecap. Bumbu mie hongkong ini enaakk, entah pake campuran apa aja itu bumbunya sampe bisa seenak itu.
IDR 23000
Karena mie hongkongnya bukan porsi besar, si abang yang masih kelaparan akhirnya pesen satu menu lagi, original okonomiyaki porsi reguler. Ukuran okonomiyakinya sebesar personal pizza di Pizza Hut. Ada yang kurang di okonomiyaki yang dipesen sama abang, kayaknya kokinya lupa ngasihin saos okonomiyaki deh, warnanya jadi plain gitu okonomiyakinya, jadi kurang berasa juga😕
IDR 18000
Oiya, ini dia minuman favorit kalo ke RumZat, dari hari pertama berkunjung, gue pesennya minuman ini. Si abang aja jadi ikut ikutan pesen minuman ini terus. Nama minuman ini adalah Honey Tea, sederhana sih, tapi pas aja gitu rasa manisnya. Dikasih gelasnya yang couple lagi, pink-biru gituuu, mihihihi😙
IDR 10000

=== NEW POST ===

Beberapa hari yang lalu, gue mampir makan disini lagi, sekalian mau ngeliatin harga harga makanannya biar bisa gue cantumin di blog, hihi. Pada kesempatan ini, gue pergi berkunjung bersama si abang Rio lagi, kami berdua kelaparan jadi cari makanan yang seporsinya langsung bikin kenyang😛

Kami berdua pesen Sushi Toriebi Hoso sebagai appetizer atau hidangan pembuka. Si sushi toriebi hoso ini adalah salah satu dari berbagai pilihan menu sushi berukuran mini, satu porsi isinya ada 9 potong sushi. Isian dari toriebi sushi ini terdiri dari daging ebi (udang) dan daging tori (ayam) yang tentunya dibungkus pakai nori (rumput laut). Seporsi mini sushi ini dihidangin dengan saus saus pelengkapnya, ada dua kecap, yang satu asin (soyu), yang satu lagi rasanya manis manis gurih gitu, entah nama sausnya apa. Terus dikasih wasabi, bubuk cabe sama jahe juga, tapi gak kami makan, gak doyan, hahaha.
IDR 19000
Nah, mari kita bahas menu utamanya. Abang Rio yang masih kelaparan (walaupun udah makan mini sushi) pesen Super Special Fried Rice, beuh! dari nama menunya aja udah kebayang kan gimana gedenya tuh satu porsi nasi goreng. Dan pas nasgornya dateng, bener aja, porsinya jumbo, lengkap pake telor ceplok plus dikasih tiga kerupuk. Model si nasgor mirip mirip nasgor jawa, bumbu utamanya adalah kecap, keliatan dari warnanya. Tapi jangan salaaahhh, emang bener pepatah don't judge a book by its cover, ternyata rasa si nasgor ini cukup pedes, tapi tenang ajaaa, pedesnya masih bisa ditoleransi kok.
IDR 35000
Gue sendiri pesen Katsu Curry Onigiri sebagai menu utama brunch gue. Dari fotonya di buku menu sih, makanan ini bakalan bikin kenyang, dilihat dari jumlah potongan katsu dan bundelan nasinya. Kayaknya si rumzat ini penganut anti mainstream, biasanya kan foto di buku menu menipu, keliatannya banyak, gak taunya pas dateng malah dikit doang. Beda sama ini, pas menu gue dateng ternyata porsinya lebih banyak dibandingkan sama yang di foto! Katsu Curry Onigiri ini rasanya ya kayak nasi putih pake katsu dikasih saos kare, gitu aja sih, kali ini rasa karenya juga kurang berasa, tapi tetep...gue lahap abis kok makanan yang udah gue pesen ini.
IDR 32500
Untuk minuman, gue sama si abang ganti menu, minuman yang lebih gak neko neko lagi, hahaha. Yak, es teh manis kami pilih sebagai penghilang dahaga sore itu. Gelasnya gede loh, manisnya pas, dan harganya lebih terjangkau juga👌
IDR 5000

Kesimpulannya, RumZat "Simplisio" ini adalah rumah makan yang recommended buat didatengin berkali kali, pilihan menu makanan dan minumannya banyaaakk dan enaakk. Tempatnya emang masih sederhana banget sih, tapi bersih dan nyaman kok, ada hiburan musiknya juga, cozy lah pokoknya. Naaahh, buat yang belom pernah ke rumzat tapi udah baca review dari gue ini, buru sih ke rumzat! cobain menu menu dari berbagai belahan dunia yang tersedia di rumah makan ini.

Buat yang mau kepo lebih lanjut tentang rumah makan ini, bisa kepoin websitenya di www.rumahlezatsimplisio.com atau bisa follow twitternya @RumZatSimplisio😉

=== RECENT POST ===

Karena post paling atas gue masih Rumah Lezat "Simplisio", maka dari itu gue update di post ini lagi aja ya, daripada bikin post baru, mihihihi. Okeh cus ke laporan menu menu baru yang gue cobain di RumZat ini. Oiya, sebelumnya gue kasih tau dulu deh, sebelum ngepost update terbaru ini, gue udah dua kali berkunjung ke RumZat, jadi jangan heran kalo dalam sekali post langsung banyak banget update-an menunya😆

Kedua kunjungan tersebut gue lakukan (lagi lagi) bersama si Abang Rio, kayaknya kami berdua bakalan jadi pelanggan tetap rumah makan ini, hahaha. Oke, sekarang bahas menu menu yang gue dan abang pesen pas di hari pertama yaaa. Kali ini gue pesen menu nasi dari Jepang yang namanya donburi. Donburi ini adalah makanan Jepang berupa nasi putih yang di atasnya dikasih macem macem lauk, sesuai keinginan yang makan tentunya. Nah donburi yang gue pesen ini toppingnya adalah beef yakiniku plus telor ceplok. Beefnya enak deh, lebih banyak dagingnya dibanding lemaknya, jadi bisa gue lahap habis semuanya, gue bukan penyuka daging yang lemaknya berlebihan soalnya, jadi gue lebih prefer tenderloin dibanding sirloin (lah gak nyambung kan..kan..).
IDR 35000
Btw pada tau kan menu makanan Jepang yang ada embel embel "teriyaki"nya? Nah tau gak bedanya teriyaki sama yakiniku? Buat yang belom tau, gue kasih tau disini. Bedanya teriyaki sama yakiniku itu cuma di bagian bumbunya aja, kalo teriyaki bumbunya manis, kalo yakiniku bumbunya asin, begitulah kira kira perbedaan dari kedua menu tersebut.

Hari itu, si abang pesen Nasi Seafood Telor Asin. Porsi nasinya banyak, potongan cuminya juga pas, gak kegedean, gak kekecilan juga, telor ceplok yang udah pasti enak, ditambah suiran telor asin yang kerasa banget, sayangnya udangnya habis, jadi diganti pake daging ayam deh😐. Oiya, menu ini juga dikasih pelengkap kuah miso.
IDR 33000
Dua menu itu yang mengisi perut gue dan abang di hari pertama (sebelum gue nulis post terbaru ini). Sekarang mari kita bahas menu menu di hari kedua. Kali ini gue sama abang mesen menu yang hampir mirip. Gue pesen Nasi Seafood Bakar Selimut Bumbu Kecap Pedas. Menu ini sebetulnya merupakan sub-menu dari Nasi Selimut Bumbu, jadi si pemesan bisa milih lauknya apa plus bumbunya mau apa. Seinget gue lauknya ada 3 macem, seafood, ayam, sama ikan dori. Kalo bumbunya ada bumbu dabu dabu, kecap, kecap pedas, sama rica rica. Tadinya gue mau pesen yang ikan dori terus pake bumbu dabu dabu, tapi ternyata ikan dorinya habis dan bumbu dabu dabunya juga lagi kosong, huhuhuu. Ya sudahlah akhirnya pesen seafood pake bumbu kecap pedas aja. Belajar dari pengalaman gue pas pesen ramen yang bisa milih tingkat kepedasannya, waktu itu gue pilih level rendah karena takut kepedesan, eh pas dateng taunya gak terlalu pedes, jadi sekarang gue mau sok sok-an pilih bumbu kecap pedas buat menu gue ini. Ternyataaa...pedasnya ibu ibuuuu, untung enak.
IDR 29500
Lanjuts...kita ke menu si abang. Dia pilih menu Nasi Ayam Panggang Selimut Bumbu Kecap. Yah si abang emang bukan penggemar makanan pedes, jadi dia cari aman milih bumbunya, hahahah. Yang beda dari menu gue sama abang adalah lauknya dia cuma ayam aja dan dia gak dikasih telor ceplok, ciyan😜. Bumbu kecapnya juara, gak kemanisan, justru gurih banget, potongan ayamnya juga pas jadi pas makan gak usah repot repot potong sana potong sini lagi.
IDR 23000
Sebelum mamams menu menu yummy tersebut, kami pesen satu menu unyu yang namanya Sauced Wedges Potatoes sebagai menu makanan pembuka kami. Enak loohh, kentangnya mirip sama yang gue makan di Pancious PVJ, beda saos aja, kalo di rumzat saosnya ada 3 macem, saos sambel, mayo, sama mustard. Oiyak. ada bedanya lagi, paling penting ini broh sis, kalo di rumzat harganya lebih terjangkaaauu, hahahahah.
IDR 19000
Kunjungan kedua barusan gue lakukan jam 10-an, dan gue baru tau ternyata rumzat diskon 20% kalo pagi pagi gitu, woohooo, kapan kapan kesananya lagi sebelum jam 12 siang kalo gitu, hehehe.

Syiiippp, segitu dulu aja update tentang Rumah Lezat Simplisio dari gue, nantikan update-an tentang rumzat selanjutnyaahh😀
Read More

July 30, 2013

Typography

Lagi jatuh cinta sama yang namanya typography. Setelah baca-baca artikel dapat gue simpulkan typography ini merupakan seni menata tulisan, entah fontnya, font size-nya, dll. Kalo coba search image di google tentang typography sih yang didapet bakalah gambar-gambar yang isinya tulisan-tulisan. Ada juga yang penataan tulisannya bisa ngebentuk wajah manusia. Contohnya kayak gini.
credit : butter-yougotthepower
Sempet iseng juga bikin bikin typography, entah ini bisa dikategorikan typography apa enggak, hahaha, sederhana banget soalnya.


Oiya dulu juga pernah bikin avatar twitter yang bertema typhograpy, pake huruf Hangul (huruf Korea). Awalnya sih cuma bikin buat sendiri sama buat Alvi, temen sesama Mong Sistah. Gara gara kita berdua pake avatar itu di twitter, temen-temen yang lain jadi pada ikutan minta bikinin, hahaha. Tiba tiba jadi euforia avatar typhography gitu deh di twitter, menyenangkan sekali, seakan akan jadi trendsetter gitu deehh😝. Ini beberapa avatar typography yang gue bikin.

avanya gue, bacaannya Mong! Risong
avanya io, bacaannya Yoo Rio (kenapa Yoo? soalnya konon katanya si abang dibilang mirip Yoo Jaesuk, hahaha 
avanya Buls, bacaannya Jung~ Bulin (di kanan atas ada tulisan Lee Junho-nya, sesuai pesanan si buls, hahaha)
avanya Alvi, bacaannya Mong! Pichi
avanya Rayi, bacaannya Ha Rayi (kenapa Ha? karena dia ngefans sekali sama yang namanya Ha Donghoon)
avanya Suri, bacaannya Mong Ceyi
avanya Atoy, bacaannya Ardi Atoy (kenapa warnanya jelek? soalnya dia yang request warnanya, bahahah)
Read More

April 12, 2012

Introspeksi Diri

Assalamualaikum...
apa kabar nih blog?kemaren baru sempet ngedandanin doang,belom sempet ditulisin,kangen juga nulis disini :')

Yaaakkk,tulisan kali ini tentang ceritaku di pertengahan semester 6 ini...penuh banget sama yang namanya masalah dalam berbagai aspek hidup. Mulai dari masalah sama keluarga, temen, kuliah, sampe *ohok*pacar*ohok*

Mungkin dari masa perkuliahan yg telah aku lewatin sampe sekarang,semester inilah yang paling bikin stress, pengen rasanya ada di rumah aja, tiap bangun tidur pengennya liat adek adek yang emang tidurnya sekamar, terus keluar kamar liat mama lagi nyiapin sarapan di dapur sama ayah yang lagi cuci motornya di teras rumah.

Semester ini aku ngerasa udah ngecewain banyak orang sama kelakuanku. Dan begonya sampe berulang ulang tuh bikin kecewanya😞 padahal yang aku kecewain adalah orang orang yang sebenernya selalu ngingetin aku,ngejagain aku,tapi akunya malah bandel. Dan akhirnya ujung dari tingkahku ini adalah dapet musuh,bukan,bukan orang orang yang aku kecewain itu yang musuhin,tapi beberapa orang yang baru aja aku kenal, jadi berbalik gak suka dan akhirnya musuhin aku. Sedih, sakit, tapi ya itu adalah konsekuensi dari apa yang udah aku lakuin.

Aku udah coba minta maaf dan memperbaiki diri, aku gamau ngulang kesalahan lagi. Orang orang yang aku kecewain itu alhamdulillah mau maafin dan ngerti kondisinya kenapa aku bisa bertingkah seperti itu. Nah,sekarang yang masih susah adalah mencoba memperbaiki silaturahmi ke orang orang yang baru aku kenal itu. Aku coba untuk bersikap sewajarnya di depan mereka, insyaAllah orang orang ini juga bersedia memaafkan kesalahanku. Aamiin.

Berbagai masalah di semester ini aku ceritain ke dua orang temen kuliah yang emang selama ini sangat aku percaya untuk dengerin unek unek. Pada akhirnya aku nangis di hadapan mereka berdua waktu cerita tentang masalah masalah yang sedang dihadapin. Setelah mereka dengerin ceritaku, mereka nenangin aku yang masih nangis sambil ngasih beberapa solusi. Dan setelah ngeluarin unek unek saat itu, aku agak merasa lebih lega, tapi gatau kenapa kayak masih ada ngeganjel gitu dalem hati😢

Akhirnya hari rabu malem setelah UTS kelar, aku pulang ke rumah di Jakarta. Seneng banget akhirnya bisa dikelilingi sama orang orang yang paling aku sayang. Sebelum tidur malam itu, aku ngeluarin unek unek lagi, kali ini ke adekku yang udah SMA. Waktu itu aku nangis sederes deresnya, bahkan sampe mau cerita pun jadi susah karena sesenggukan. Adek senyum sambil ngelus ngelus punggung. Dia bilang "Kak, kakak jangan gegabah buat mutusin sesuatu untuk jadi solusi masalah kakak ini. Kakak coba pikirin konsekuensi ke depannya." Aku cuma diem pas dia bilang begitu sambil mengiyakan di dalem hati. Ada satu lagi kata katanya yang paling bikin JLEB! kayak ada samurai yang nembus badan. Dia bilang gini, "Biasanya ya kak, kalo aku ada masalah kayak gini, aku coba inget inget, apa ya yang udah aku lakuin? Sampe akhirnya aku sadar, kalo aku lagi ga deket sama Allah, solatnya telat terus, jarang baca qur'an, jarang doa sebelum/setelah ini itu. Tapi kalo kakak ngerasa kakak masih rajin ibadah, mungkin ini ujian dari Allah kak, Allah pengen liat segimana tangguhnya sih kakak buat ngadepin masalah ini." Demi Allah, saat itu aku langsung ngerasa tersindir, aku ngerasa dosa, iya akhir akhir ini aku sering telat solat, iya akhir akhir ini aku jarang nyentuh qur'an, iya akhir akhir ini aku suka lupa baca doa😭 Malam itu, adekku jadi sosok kakak, ternyata pemikiran dia lebih dewasa, lebih tenang.

Sekembalinya ke dunia nyata (baca: Bandung), aku coba buat introspeksi diri. Aku mau mendekatkan diri lagi sama Allah SWT, emang akhir akhir ini aku ngerasa jauuuuhhh dari Allah, padahal Allah sayang sama aku😔 Mungkin hubungan aku ke sesama manusia jadi buruk karena aku ga berusaha untuk membina hubungan yang baik sama Allah SWT.

Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini. Hamba berjanji akan selalu berusaha mendekatkan diri pada-Mu ya Rabb. Aamiin.
Read More

December 04, 2010

Percakapan di Kampus Hari Ini yang Sangat Membekas dalam Ingatan

(lagi diskusi nih ceritanya)
Mahasiswa 1 : "Menurut Anda bagaimana bentuk partisipasi anda jika pemerintah ingin membuat proyek pemerintah dan kediaman anda dengan terpaksa harus dikorbankan?"
Mahasiswa 2 : "Yaaahh~ menurut saya sih saya pasti liat dulu sebanyak apa lahan kediaman saya yang dikorbankan, jika memang proyek tersebut membutuhkan lahan yang cukup luas dari kediaman saya, saya pasti pikir2 juga dong, kalo ada gantinya ya, okay~ nothing to lose  gitu kan?"
Ibu Dosen : *lambai2 tangan ke mahasiswa 2 buat ngasihin mic ke beliau* "Wah~ berdasarkan jawaban kamu, berarti kamu tidak ikhlas dong ya? Padahal kan itu untuk kepentingan umum. Ya, bagaimana? Dari yang lain ada yang mau menambahkan?"
Mahasiswa 3 : "Kalau menurut saya sih, Bu, biasanya jika pemerintah ingin membuat proyek yang akan mengorbankan perumahan masyarakat, biasanya akan diadakan komunikasi dulu, pastinya nanti akan ada kesepakatan, dan pasti ada ganti rugi yang akan dibayarkan sama pihak pemerintahnya. Semua orang pasti akan pikir2 dulu kalau rumahnya akan digusur untuk proyek pemerintah dan pasti mereka minta ganti rugi. Yaaa~ beda cerita lagi kalau yang digusur rumahnya itu orang yang mampu."
Ibu Dosen : "Oke. Benar. Pastinya pemerintah sudah menyiapkan MOU sendiri untuk orang-orang yang sekiranya akan dirugikan (karena rumahnya digusur)."
Aku (dalem hati): Lah~ berarti yang mahasiswa 2 ga salah dong??

(pas kuliah mau selesai)
Ibu Dosen : "Ya bagaimana? Ada yang mau ditanyakan lagi? Umum, tidak perlu yang berkaitan dengan kuliah hari ini kok. Bagaimana Mahasiswa 3 yang tadi menambahkan? Jangan2 pernah digusur ya? Kamu harus jadi PAHLAWAN dong buat kepentingan umum, ya? Harus ikhlas demi kepentingan umum. *nyengir*"
Mahasiswa 4 : *angkat tangan*
Ibu Dosen : "Yak. Silahkan Mahasiswa 4."
Mahasiswa 4 : "Bu, kalau misalnya uang ganti rugi yang dikasih sama pemerintah tidak sebanding dengan kerugian yang dialami, bagaimana, Bu?"
Ibu Dosen : "Yaaa~ sebelumnya harus NEGOSIASI dulu dong. Masa tidak sebanding?"
Aku (dalem hati): errrr~ yaa~ okay~ intinya harus bisa jadi PAHLAWAN kepentingan umum yang bisa NEGOSIASI! itu IKHLAS ga sih??
x
Read More

July 22, 2010

20 Juli yang ke-18

Yaakk, ulang tahun ke 18 ini dihabiskan di Bandung, dikarenakan program semester pendek yang sedang diambil. Pagi harinya diawali dengan kuliah kalkulus 2 yang aku ambil untuk kedua kalinya. Berangkat ke kampus bareng Sri dan Alvi seperti biasa. Kuliah berjalan dengan semestinya, seperti biasanya, dosennya pelan ngomongnya, dan kemudian aku ngantuk, yang akhirnya ditahan dengan cara gigitin kuku kaki tangan. Kuliah selesaaiiii! Dan akhirnya kami bertiga pulang ke kost Felicia tercintah untuk bobo ciang

Sesampenya di kamar, ganti baju, menuju ke kasur, kemudiaaann...buka laptop! Liat mentionan, siapa tau ada yang ngucapin happy birthday, meheheh

Sorenya, aku ngajak Sri, Alvi, sama Mbak Neni makan makan di BSM. Berbagi rejeki yang ga seberapa, hihihiii. Kami berempat makan di Pizza Hut, pesen menu delight yang berempat (nah kan, emang rejekinya ga seberapa..udah cuma 3 orang yang ditraktir, pilih paket pula, bahahahah).



Oiya tanggal 3 hari sebelum hari itu, kita berempat belanja di cimol gedebage, belanja "hemat". Bisa diliat di foto foto barusan, mereka berempat lagi endorse baju baju cimol, hehehe. Waktu ke cimol, Sri, Alvi, sama Mbak Neni juga ngebeliin kado loohh, uuuu terharuuu :'). Ini dia kadonyaaaa~
Terima kasih yaaa, Sri, Alvi, dan mbak Neniiii😘



Read More

July 19, 2010

Despicable Me


UWAAAAHH~ Sumpah ya ini film, pertama kali liat trailernya udah langsung tertarik, kok kayanya lucu filmnya, waktu itu sih liat trailernya pas lagi mau nonton Toy Story 3, jadi sebelum filmnya mulai kan biasanya ada iklan2nya tuh, naaahh~ liatnya disitu tuh

Tadinya sih kemaren pengen ke acara Poppish Lovish, acara cover dance KPOP gitu, soalnya grup temen juga partisipasi di acara itu. Tapi lebih berat ke nonton aja deh, hehehe~ udah lama gitu, pengen refreshing di sela2 SP. Dan akhirnya nonton lah diriku, bareng2 sama temen kosan, ada Alvi, Jeng Sri, sama Mbak Neny (manager kosan Felicia Bandung).

Kami memutuskan buat nonton di BSM a.k.a Bandung Super Mall, sempet dilema tuh, tadinya pengen di BIP, cuma karena ada satu dua alasan, akhirnya di BSM aja dah. Nah, terjadi dilema lagi tuh pas milih mau nonton film apa. Poster Twilight 'Eclipse' masih terpajang di dalam box yang di atasnya ada tulisan NOW PLAYING, tapi di sebelahnya ada poster Despicable Me yang sangat menggoda   daaaaann~ jjeng~ jjeng~ jjeng~ film yang akhirnya kami tonton Despicable Me deeehh 

Nih foto tiketnya :




Kenapa cuma 3? Soalnya si Jeng Sri kaga ikutan, mau ngirit duit mingguan katanya. Jadi dia ke Gramedia deh sendirian.

Setelah nonton filmnya, aku tambah ngefans aja sama karakter yang namanya AGNES!!
Itu anak yaaa~ minta di-unyel2 pipinya😚
Liat aja nih!!
AGNES' DOUBLE CUTENESS ATTACKS




Nih, spoiler2 film ini yang bikin greget!!
Dijamin ga nyesel deh kalo nonton, ehehehehehe~ *promosi*

Agnes: "It's so fluffy I'm gonna die!" & "Does this count as annoying?"

Minnions' Stutter XD

Read More